Minggu, 15 Januari 2012

Keterbatasan tak pernah menjadi penghalang


           Setelah puas membaca tulisan 5cm karya Dhonny Dhirgantoro, saya kembali tergelitik untuk membaca karya ke-2 nya yang berjudul "2". Pada awalnya saya sempat ragu membeli buku ini, karena judul cover yang hanya bertuliskan angka 2, tapi setelah sedikit mengintip lewat kepunyaan teman saya yang terlebih dahulu membeli, saya pun akhirnya memutuskan membeli buku ini sendiri. Dan ternyata setelah membelinya, tidak membutuhkan waktu lama menghabiskan cerita buku ini, karena ceritanya yang cukup menarik. :)



 Tema yang diangkat tidak lepas dari mimpi dan harapan. Gaya bahasa sehari-hari ala Dhonny Dhirgantoro juga masih dipertahankan dalam novel ini. Cerita berawal dari seorang anak perempuan yang lahir dengan berat badan hampir 7 kilo, yang membuat dia berbeda dengan bayi yang lahir pada umumnya. Nama anak itu adalah Gusni Anissa Puspita. Menginjak dewasa, bukannya turun namun berat badannya malah semakin naik drastis, sampai di usianya 12 tahun badannya sudah mencapai berat 100 kg. 

Gusni terlahir dari keluarga yang akrab dengan bulutangkis, ayahnya yang seorang pembuat kok sekaligus penggemar berat Susi Susanti dan kakaknya yang menjadi atlit remaja bulutangkis juga telah memenangkan berbagai kejuaraan, membuat Gusni kecil bercita-cita menjadi seperti kakaknya. Namun orangtuanya sempat ragu dengan keinginan anaknya tersebut lantaran Gusni mempunyai berat badan yang tak cukup ideal untuk ukuran pemain bulutangkis. 

“ Cintai impianmu, Cintai kerja kerasmu, Cintai hidupmu dengan berani, jangan menyerah dan jangan pernah berputus asa ”

Pada awal cerita juga mengisahkan pertemanan Gusni dengan Harry, seorang anak laki-laki yang berbadan hampir sama dengannya. Harry juga mempunyai kebiasaan yang sama dengan Gusni, yakni jajan onde-onde saat istirahat jam sekolah. Bahkan gara-gara onde-onde lah mereka saling mengenal. Namun suatu peristiwa telah memisahkan pertemanan mereka. Kerusuhan tahun 1998 telah membuat Harry dan keluarganya kehilangan tempat tinggal, karena restoran keluarganya sekaligus menjadi rumahnya turut menjadi sasaran pembakaran amuk massa. Harry dan keluarganya akhirnya pindah. Maka sejak itulah pertemanan mereka harus terputus karena Gusni tidak mengetahui Harry dan keluarganya pindah kemana

Gusni yang mulai menginjak remaja, akhirnya bisa sedikit berbahagia, sebab keinginannnya bermain bulutangkis akhirnya tercapai. Pelatih yang sering melatih kakaknya, melihat bakat terpendam Gusni. Bakat terpendam Gusni bukan datang begitu saja, sejak kecil Gusni mempunyai kebiasaan membawa raket nyamuk kemanapun saat ia pergi, sehingga pergelangan tangannya pun lambat laun makin terbiasa mengayunkan sebuah raket. Latihan demi latihan ia jalani demi cita-citanya tersebut, sampai pada suatu saat gusni harus jatuh pingsan di lapangan tempatnya berlatih, disebabkan tekanan darahnya naik tajam. Setelah kejadian tersebut Gusni pun utnuk sementara berhenti berlatih bulutangkis. 

Kisah cinta pun menghiasi kehidupan Gusni, harry yang sudah kembali dan bertemu dengannya kini telah menjadi kekasih Gusni. Hari-hari Gusni pun makin bertambah indah, pasalnya Harry tidak pernah lelah untuk selalu menyayangi dan mensupport dia dalam segala hal.

Saat berumur 18 tahun, Gusni harus mendengar cerita sekaligus kenyataan pahit dari kedua orangtunya, dengan berat hati orang tuanya bercerita bahwa dirinya mengidap penyakit genetis, sebuah penyakit keturunan yang didapat dari kakeknya, yang membuat berat badannya terus naik , karena produksi lemak dalam tubuh yang terlalu besar dibanding pembakarannya, sehingga akan menimbulkan obesitas. Bahkan ia juga diprediksi oleh dokter hanya dapat bertahan hidup sampai umur 25 tahun. 

Di sinilah hal yang mengharukan terjadi Gusni yang pada awalnya tidak bisa menerima kenyataan ini, justru membulatkan tekad untuk melawan penyakitnya. Satu-satunya cara agar dia bisa terus bertahan hidup adalah dengan terus membakar lemaknya. Salah satu cara yang dilakukan Gusni untuk membakar lemaknya adalah dengan lari dari rumahnya sampai ke gelanggang olahraga setiap paginya, dan itu ia lakukan setiap harinya untuk melawan penyakitnya. Dukungan juga terus mengalir dari keluarganya, sahabat dan juga kekasihnya Harry. 

Pelatih yang sempat melatih Gusni kembali melihat semangat dan gairah Gusni, mengajaknya kembali bermain bulutangkis. Puncaknya adalah ketika Gusni dan kakanya Gita yang tergabung dalam Tim Nasional Putri Indonesia berlaga di kejuaraan bulutangkis Khatulistiwa terbuka, yakni sebuah kejuaraan Internasional se Asia tenggara yang diadakan di Jakarta. Gusni yang awal turnamen dipertanyakan oleh penonton dan diremehkan oleh orang-orang karena badannya yang dirasa terlalu besar untuk pemain bulutangkis, mampu menunjukkan bahwa badannya tidak mengahalangi kemampuannnya dalam bermain bulutangkis.


          Ketegangan sangat terasa saat Gusni dan tim Srikandi berhasil mencapai partai final melawan tim Malaysia. Rasa nasionalisme dan perjuangan begitu kental dalam momen ini.. Gemuruh yel-yel dan teriakan – teriakan dukungan untuk Indonesia di dalam gelanggang membuat hawa pertandingan semakin panas. Akan tetapi ketegangan berakhir setelah Indonesia mampu menaklukkan Malaysia dengan total skor 3-2 melalui duet Gusni dan kakaknya Gita di pertandingan Ganda Putri. 

            Semangat nasionalisme sangat tercermin dalam cerita ini, jutaan rakyat Indonesia sekaan menyambut dan bersorak sorai kemenangan ini. Seluruh penonton di dalam gelanggang pun tak kalah bergemuruh menyambut kemenangan Indonesia. Tangis haru pun  tak terelakkan dan pecah diantara Gusni, kakaknya dan timnas putri Indonesia saat Indoenesia raya berkumandang di gelanggang menyambut kemenangan yang diraih Tim Indonesia.

            Membaca buku ini sangat menguras emosi dan tenaga. Walaupun di awal cerita mungkin sedikit membosankan dan terkesan bertele-tele. Namun pada pertengahan dan akhir cerita, buku ini mampu menyihir saya dengan berbagai konflik disuguhkan, yang membuat buku ini semakin seru untuk dibaca.

            Buku ini juga layak dibaca bagi yang haus akan motivasi dan inspirasi. Karena banyak cerita dalam buku ini yang sangat menginspirasi.  Selain itu, buku ini seakan memberikan spirit tersendiri ditengah lesunya prestasi Timnas Bulutangkis Indonesia. Dalam novel ini penulis juga ingin menunjukkan bahwa dibalik keterbatasan dan ketidaksempurnaan hidup, setiap diri adalah kekuatan yang tidak pernah sedikitpun diremehkan oleh sang pencipta. Karena segala sesuatu diciptakan 2 kali. Dalam dunia imajinasi, dan dalam dunia nyata.

            Itulah sedikit resensi saya tentang buku ini, semoga bemanfat :)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar