Oleh : Dimas Triambodo
Selepas isya’ aku dan kawan yang lain beranjak meninggalkan kampus. Berbeda dari yang lain, aku bukannya memacu kendaraan menuju alun-alun utara. Tempat dimana lokasi Pasar Malam berada, melainkan membelok ke arah timur, munuju ke rumah seorang teman spesial. Ivon namanya sudah 6 bulan ini menjalin kasih dengannya.
Jam menunjukkan pukul setengah delapan. Aku dan Ivon hampir tiba di alun-alun utara. Namun sayang. Kemacetan terlebih dahulu menjebak kami. Berkali-kali kuping ini pekak akibat bunyi klakson dari motor dan mobil yang terjebak macet.
“Kita parkir dimana nih?” seru Ivon.
“Deket sini aja, ga mungkin kalo kita masuk alun-alun utara. Sudah macet total ni”, jawabku untuk menenangkan dirinya yang sudah mulai bosan dengan kemacetan.
Tak berapa lama, dari kejauhan tampak seorang bapak-bapak melambaikan tangan, menunjuk ke arah sebuah parkiran motor. Tanpa basa-basi kuikuti arah lambaian bapak itu menuju ke sebuah lahan kosong yang disulap menjadi parkiran. Kamipun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Alun-alun utara masih beberapa meter lagi. Tapi dari kejauhan lampu bianglala dan komedi putar terlihat merona bercahaya ditengah gelapnya malam. Keindahan itu membuat aku mempercepat langkahku, sampai-sampai tak sadar jika Ivon telah tertinggal beberapa meter dibelakangku. Aku yang malu karena kelalaianku, memutuskan kembali untuk menghampirinya. Namun terlambat, Ivon sudah terlanjur merajuk. Aku pun kena sedikit omelnya.
Sambil kugandeng, aku merayunya dengan berjanji akan membeli balon gas kesukaannya. Dan beruntung strategiku berhasil, lama kelamaan raut muka masam hilang dari wajahnya.
Di dalam area Pasar Malam Sekaten. Situasi terlihat sesak dan berjejal bukan saja oleh pengunjung tapi juga oleh para pedagang. Hal ini membuat kami terpaksa berjalan lambat. Bahkan sesekali menabrak pengunjung yang lain. Sendalku pun beberapa kali menginjak sandal Ivon. Hingga sedikit membuat Ivon kesal.Tak ubahnya dengan pasar malam di tempat lain, Sekaten dipenuhi dengan stan-stan tempat berjualan. Berbagai barang dijual disini, mulai dari baju, topi, asesoris, hingga beragam mainan. Penjaja makanan pun tak mau kalah. Mulai dari bakso sampai pentol keliling tersedia di Sekaten ini.
“Gimana? Mana temenmu?”, kata Ivon mengingatkankan aku.
“Bentar ini lagi di sms”, balasku.
Karena terpisah dari rombongan mau tak mau aku memang harus cepat menghubungi kawan-kawan yang lain agar tahu dimana posisi mereka.
Selang beberapa waktu, sebuah sms dari kawanku masuk mengabarkan posisi mereka berada. Bergegas aku menghampiri mereka. Ternyata mereka sudah antri bersiap memasuki sebuah wahana. Orang-orang biasa menyebutnya Ombak Banyu Wahana ini berbentuk lingkaran berdiameter kurang lebih sepuluh meter, Di lingakaran tersebut menempel bangku dari kayu yang berguna untuk duduk penumpangnya. Di tengah terlihat satu tiang yang berfungsi sebagai poros saat lingkaran itu berputar. Yang menarik disini, Ombak Banyu itu bukan diputar oleh mesin, melainkan tenaga manusia.
Salah seorang dari kawanku sebenarnya mengajak aku dan Ivon masuk kedalam rombongan. Namun aku menolaknya. Ketakutan akan mual dan pusing membuatku enggan menuruti ajakan itu. Ivon pun sama denganku ia juga menolak ajakan tersebut.
Akhirnya kami lebih memilih menaiki sebuah wahana kapal berayun. Wahana ini unik berupa kapal yang digantung, kemudian diayun-ayunkan hingga menjulang kelangit. Dalam kapal terdapat 6 bangku. 3 bangku untuk sisi kiri, 3 bangku lagi untuk sisi kanan. Kedua sisi tersbut diletakkan saling berhadapan. Di Dunia Fantasi Ancol wahana semacam ini biasa disebut Kora- Kora, tapi kalau disini aku kurang paham orang-orang menyebutnya apa. Karena itu aku memutuskan untuk menyebutnya ‘Kora-Koranya’ Sekaten.
“Tettttttt……………..” Suara klakson menandai permainan akan segera dimulai. Kami yang sudah duduk dibangku tengah di sisi sebelah kiri, mendadak gugup. Perlahan mesin diesel mulai mengayunkan kapal. Ayunan pelan cukup membuat kepala sedikit pening. Kapal diayun maju-mundur begitu dan seterusnya. Hingga lama-kelamaan ayunan mulai kencang. Mulut yang tadi diam, sekarang tak kuasa melepaskan teriakan.
“Arrrrrrgggggggghhhh…… “ aku tak kuasa menahan teriakanku. Kulirik sampingku, Ivon sudah memeluk tubuhku sembari ikut berteriak kencang. Saat kapal berayun mudur, kami serasa terlempar kelangit, saat maju perut terasa diguncang oleh gempa dahsyat. Ketegangan belum berakhir, entah berapa kali kapal ini diayun. Hingga salah seorang didepanku berteriak kepada petugas wahana ini, menanyakan kapan berhentinya ayunan. Kami tertawa geli melihat hal itu. Kapal mulai melambat hingga akhirnya berhenti. Saat turun kami pun masih tertawa terbahak-bahak, mengingat sensasi wahana tadi.
Turun dari ‘Kora-koranya’ Sekaten. Aku dan Ivon kembali bergabung dengan kawan-kawanku yang lain. Ternyata mereka belum selesai menikmati wahana ombak banyu. Sembari menunggu mereka. Ivon menagih janjiku untuk membelikannya balon gas. Aku dan Ivon kemudian mengampiri penjual balon gas. Wajah penjual balon gas itu masih nampak muda. Peluh keringat mengucur dari dahinya. Ivon memilih balon berbentuk ‘nemo’ sebuah karakter di film kartun Finding Nemo. Segera setelah mendapatkannya Ivon memeluk balon itu seperti memeluk guling dan bantalnya.
Tak terasa sudah 2 jam. Kami semua larut dalam hingar bingar Sekaten. Malam semakin larut, Tik.. tik rintik hujan mulai turun dari langit menandakan akan hujan. Benar saja, rintik makin deras. Aku dan Ivon segera berlari menuju parkiran. Sama halnya dengan kawan-kawanku yang lain. Hujan itu menutup ekspedisiku bersama kawan-kawan di Sekaten. Selintas benakku terpikirkan berapa banyak orang yang menggantungkan hidup di Sekaten ini. Hiburan murah meriah ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Jika boleh berharap semoga kemeriahan Pasar Malam Sekaten ini terus ada setiap tahunnya. Hingga menjadi sebuah tradisi taunan yang melegenda sepanjang masa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar