Minggu, 20 Januari 2013


Tak “semanis” Jadah Tempe
Oleh : Dimas Triambodo

“Monggo mas, dicoba dulu. Manis kok.. ”ujar seorang perempuan, sembari menyodorkan sebuah jadah dan tempe beralaskan plastik. Lalu ia tersenyum hangat.Setelah mengucap terima kasih, dengan sigap kuterima jadah dan tempe tersebut. Perempuan itu bukan sedang berbaik hati berbagi makanan. Tapi ia sedang “merayu” agar saya mau membeli jajanannya.

Namanya Wanti, Umurnya 60 tahun. Ia adalah salah satu penjaja makanan di Telogo Putri, tempat wisata andalan di kawasan Kaliurang, Yogyakarta.Sore itu Jumat 11 Januari 2013, hujan sedang mengguyur Telogo Putri. Suasana nampak sepi. Pengunjung yang terlihat hanya segelitir orang. Sisanya adalah pedagang makanan dan para sales/sopir jip yang lalu lalang menembus hujan. Cuaca memang tak bersahabat kala itu. Hampir satu jam berlalu hujan tak jua berhenti.

Di sebuah petak terbuka beratapkan seng. Ia menggelar lapak dagangan bersama 2 penjaja jadah lain, yakni Menok dan Marfuah. Petak itu hanya berukuran 2 x 4 meter. Alhasil dalam berjualan Wanti terpaksa berhimpit - himpitan dengan kedua rekan sesama pedagang tersebut. Ia juga menuturkan, jika dulu atap petaknya sering bocor saat hujan. Pernah suatu kali ia melayangkan keluhan kepada pengelola, namun diabaikan. Sampai-sampai  ia harus memperbaikinya sendiri. “Kalo laporan ya paling jawabnya kapan-kapan mas..” kata Wanti dengan tawa kecil.

 Lokasi yang ia tempati juga tak gratis. Setiap bulannya ia wajib membayar 34 ribu. Tapi hal itu tak ditanggung sendiri, melainkan bersama Menok dan Marfuah. Bagi Wanti, Menok dan Marfuah, sudah seperti saudara. Hampir tiap hari bertemu saat berjualan dan kebetulan menjajakan makanan yang sama.

Anak pertama dari 10 bersaudara ini seorang diri saat berjualan. Ia tak ditemani oleh suami atau anaknya. Sang suami telah meninggal. Beberapa hari yang lalu adalah seribu hari sang suami.

“Bapak sebelumnya pernah kawin lagi” tutur Wanti dengan mata terlihat berkaca-kaca.  Itulah alasan mengapa ia harus menghidupi anaknya sendirian.

Anak lelaki satu-satunya telah menikah dan bekerja sebagai sales jip. Pekerjaannya adalah mencari penumpang yang mau berkeliling kawasan Kaliurang menggunakan mobil Jip. Anak lelakinya juga yang setiap hari mengantar – jemput Wanti saat berdagang.

Wanti bukan seorang pendatang. Ia mengaku asli warga Kaliurang. Jarak rumahnya tak sampai satu kilometerdari Telogo Putri. Sudah 15 tahun Wanti menggantungkan hidup dengan bekerja sebagai Penjaja Jadah Tempe. Sebelumnya, pekerjaan Wanti hanyalahngarit (mencari rumput) untuk ternak sapinya. Namun karena sapinya telah dijual. Ia memilih berjualan Jadah Tempe.

 “Manisnjih Bu’. Pakai gula jawa ya ?” Selorohku

Injih mas. Manteb to?” ujar Wanti, sambil berkelakar.

Jadah Tempe Wanti memang seketika mengobati kerinduan akan rasa khas jadah. Karena pakai gula jawa, manis di Tempe bacem terasa alami, bukan rasa seribu manis. Jadah dan tempe ia buat sendiri. Ia berkata jika dirinya punya resep tersendiri warisan orang tuanya dalam membuat jadah tempe.

Wanti mengaku kebanyakan pembeli Jadah tempe adalah orang jawa, jarang sekali pembelinya adalah orang dari luar jawa. Menurutnya, hal itu karena orang luar jawa mungkin belum terbiasa makan makanan orang jawa. 

            Jajanan yang dijual Wanti tak hanya jadah dan tempe, tapi juga tahu, kerupuk, wajik. Jajanannya tak hanya dijual di Telogo Putri, tapi juga dirumah. Jika sedang musim liburan, dagangan miliknya bisa laku habis terjual karena ramainya pengunjung. Akan tetapi jika bukan musim liburan seperti saat ini, ia hanya bisa menjual beberapa kilo jadah. Walau begitu ia tetap bersyukur. Bagi dia asal sudah bisa memenuhi kebutuhan itu sudah cukup.

Obrolan belum berhenti, Hampir satu jam semenjak hujan turun sampai sudah reda. Saya masih duduk di samping Wanti. Ia sangat terbuka dengan kehadiran saya. Bahkan saya sempat menjadi objek promosi dagangnya.

 “Monggo mbak jadah tempenya, yang jualan mas disamping saya ini loo” teriak Wanti kepada sepasang muda-mudi yang sedang melintas didepan lapaknya.

Tak ayal muda-mudi itupun tertawa geli melihat kearah kami. Spontan muka saya pun memerah. Menok dan Maimunah juga tak bisa menahan gelak tawanya. Keduanya ikut-ikutan menertawai.

Melihat bukit yang rimbun dibelakang Lapak Wanti. Saya iseng bertanya.

“Apa tidak takut longsor bu? Ujar saya”

“Oh ndak mas, yang saya khawatirkan malah kalo ada gerombolan monyet yang turun dari bukit” ucapnya.

Salah satu daya tarik tempat wisata Telogo Putri adalah banyaknya monyet yang berkeliaran. Biasanya gerombolan monyet ini turun dari bukit guna mencari makan.Wanti punya cerita sendiri terhadap para gerombolan monyet tersebut. Salah satunya tentang dagangan Wanti yang sering diambil oleh gerombolan monyet. Hingga wanti memutuskan memberi sebungkus jadah kepada para monyet, saat mereka menyerbu lapak Wanti.Pedagang lain pun tak kalah sibuk saat para monyet turun. Pedagang lain juga terkena serbuan para monyet. Yang lucu kata Wanti, monyet tersebut saat mengambil minuman, tak mau cuman air putih, tapi milih yang berwarna.

Hari makin sore. Wanti tetap setia menunggu lapaknya. Percakapan tentang para monyet tadi telah menjadi penutup percakapan kami. Setelah membeli sebungkus Jadah Tempe, saya pergi meninggalkan Wanti.

            Walau manisnya Jadah Tempe buatannya tak “semanis” cerita hidupnya. Namun, Wanti adalah potretwanita tangguh di negeri ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar